Bismillah... aku berjilbab
syar’i! Semoga dengan berjilbab syar’i ini Allah lebih memberikan rahmat dan
taufik-Nya kepadaku tapi aku pun kembali membuat perjanjian dengan Allah di
depan kaca “Ya Allah, jika memang jilbab syar’i ini membuatku merasa nyaman dan
dihormati maka aku akan mengistiqomahkan jilbab ini tapi jika ini membuatku
merasa diperolok atau tidak nyaman, aku akan meninggalkannya dan tidak akan
pernah aku memakainya lagi!.” Akhirnya, setelah memakai jilbab syar’i ini aku
merasa lebih nyaman dan dihormati semua orang. Teman-temanku kagum dan tidak
percaya dengan perubahan penampilanku. Alhamdulillah.
Kebanyakan orang beranggapan,
lebih baik menjilbabkan hati dulu kemudian menjilbabkan fisik. Hingga sampai
detik ini, aku belum mengerti bagaimana caranya menjilbabi hati yang dimaksud
itu, lalu beli dimana jilbab hati itu?. Tapi kalau aku boleh berpendapat,
mengapa kita tidak ubah saja paradigmanya? Jilbabkan dulu kepala sambil dengan menambah ilmu agama kita.
Setelah itu, perlahan semua sisi kehidupan kita akan mengikuti. Bagaimana?.
Setuju?.
Aku bisa seperti sekarang ini
berawal dari jilbab yang mengikat leherku. Jilbab inilah yang menyadarkanku
bahwa bacaan Al-Qur’anku sangat berantakan. Dengan jilbab ini aku menyadari
ilmu agamaku masih sangat minim. Maka, tak ada pilihan lagi kecuali aku harus terus
belajar mendalami Islam. Jika sudah seperti sekarang, apa itu berarti hati ini
sudah berjilbab? Wallahu’alam. Jelasnya, satu hal yang wajib aku imani bahwa
Al-Qur’an adalah pedoman hidup manusia di bumi ini. Dan perintah menutup aurat
sudah tertulis jelas disana jauh sebelum kita diciptakan.
Bersambung...
Bersambung...



