........................................
Sejujurnya, pernah ada air mata yang ku tumpahkan untuk semua ini. Rasa cintaku pada dunia entertainment dan cita-citaku menjadi seorang model ternyata berbenturan dengan prinsip yang kuyakini tentang hijab ini. Perlahan-lahan aku memulai belajar ikhlas. Ikhlas untuk tidak mengikuti hawa nafsuku. Aku sangat percaya pada takdir Allah. Aku tidak akan kehilangan apa-apa, aku tidak akan rugi dengan apa-apa, karena aku sedang mengikuti perintah Rabb-ku. Akan ada janji balasan yang luar biasa di balik keikhlasan ini. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Aku percaya itu.
Sejujurnya, pernah ada air mata yang ku tumpahkan untuk semua ini. Rasa cintaku pada dunia entertainment dan cita-citaku menjadi seorang model ternyata berbenturan dengan prinsip yang kuyakini tentang hijab ini. Perlahan-lahan aku memulai belajar ikhlas. Ikhlas untuk tidak mengikuti hawa nafsuku. Aku sangat percaya pada takdir Allah. Aku tidak akan kehilangan apa-apa, aku tidak akan rugi dengan apa-apa, karena aku sedang mengikuti perintah Rabb-ku. Akan ada janji balasan yang luar biasa di balik keikhlasan ini. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Aku percaya itu.
Yang menjadi masalah, apakah
nanti hidayah akan datang lagi dihatiku? Yang jadi masalah, adakah yang tahu
umurku sampai kapan, aku mati kapan?.
Lambat laun aku tidak peduli lagi
aku akan menjadi bintang model atau tidak. Hari-hariku pun tak lagi ku sibukkan
dengan fashion show. Mau beberapa
langkah lagi atau sejuta langkah lagi menuju bintang model, sungguh aku sangat tidak
peduli. Yang kuinginkan di dunia ini hanya keridhoan Allah. Akhirnya, aku
benar-benar melupakan dunia entertainment.
Aku berpikir, dunia entertainment sangat
tidak cocok untukku. Sejak saat itulah aku rajin mempelajari agamaku, aku
sangat fokus pada pendidikanku, dan saat itulah aku mengubah cita-citaku dari seorang
model menjadi seorang pengajar.
Aku pun berdalih menjadi guru
mengaji di 13 ilir Palembang, jaraknya cukup jauh dari rumahku. Harus melewati
jembatan ampera untuk menuju kesana. Awalnya, seorang teman bercerita kepadaku
bahwa di tempat itu membutuhkan pengajar untuk anak-anak yang kurang mampu.
Akhirnya, Allah menggerakkan hatiku dan membuat bibirku berucap,”Bolehkah aku
mengajari mereka?”. Atas izin Allah, aku pun diperbolehkan untuk mengajar
disana dan memiiki keluarga baru.
Anak-anak itu membuatku lupa akan
sepi. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika anak-anak itu
berhamburan keluar mushala untuk rebutan menyalamiku saat aku datang. Aku
bahagia ketika anak-anak itu membaca huruf hijaiyah dengan penuh semangat
meskipun terbata-bata, ketika mereka membaca doa penuh ceria dan canda tawa.
Seiring berjalannya waktu, kehidupan yang kujalani sebagai gadis berjilbab
dengan segala aktivitas di dalamnya terasa begitu indah dan menyenangkan.
Inikah nikmat hidayah Allah itu?
Bersambung....


0 komentar:
Posting Komentar