Translate Your Language Here

Perjuangan Penuh Air Mata

........................................


Sejujurnya, pernah ada air mata yang ku tumpahkan untuk semua ini. Rasa cintaku pada dunia entertainment dan cita-citaku menjadi seorang model ternyata berbenturan dengan prinsip yang kuyakini tentang hijab ini. Perlahan-lahan aku memulai belajar ikhlas. Ikhlas untuk tidak mengikuti hawa nafsuku. Aku sangat percaya pada takdir Allah. Aku tidak akan kehilangan apa-apa, aku tidak akan rugi dengan apa-apa, karena aku sedang mengikuti perintah Rabb-ku. Akan ada janji balasan yang luar biasa di balik keikhlasan ini. Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya. Aku percaya itu.
Yang menjadi masalah, apakah nanti hidayah akan datang lagi dihatiku? Yang jadi masalah, adakah yang tahu umurku sampai kapan, aku mati kapan?.

Lambat laun aku tidak peduli lagi aku akan menjadi bintang model atau tidak. Hari-hariku pun tak lagi ku sibukkan dengan fashion show. Mau beberapa langkah lagi atau sejuta langkah lagi menuju bintang model, sungguh aku sangat tidak peduli. Yang kuinginkan di dunia ini hanya keridhoan Allah. Akhirnya, aku benar-benar melupakan dunia entertainment. Aku berpikir, dunia entertainment sangat tidak cocok untukku. Sejak saat itulah aku rajin mempelajari agamaku, aku sangat fokus pada pendidikanku, dan saat itulah aku mengubah cita-citaku dari seorang model menjadi seorang pengajar.

Aku pun berdalih menjadi guru mengaji di 13 ilir Palembang, jaraknya cukup jauh dari rumahku. Harus melewati jembatan ampera untuk menuju kesana. Awalnya, seorang teman bercerita kepadaku bahwa di tempat itu membutuhkan pengajar untuk anak-anak yang kurang mampu. Akhirnya, Allah menggerakkan hatiku dan membuat bibirku berucap,”Bolehkah aku mengajari mereka?”. Atas izin Allah, aku pun diperbolehkan untuk mengajar disana dan memiiki keluarga baru.
Anak-anak itu membuatku lupa akan sepi. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa ketika anak-anak itu berhamburan keluar mushala untuk rebutan menyalamiku saat aku datang. Aku bahagia ketika anak-anak itu membaca huruf hijaiyah dengan penuh semangat meskipun terbata-bata, ketika mereka membaca doa penuh ceria dan canda tawa. Seiring berjalannya waktu, kehidupan yang kujalani sebagai gadis berjilbab dengan segala aktivitas di dalamnya terasa begitu indah dan menyenangkan. Inikah nikmat hidayah Allah itu? 



Bersambung....

0 komentar:

Posting Komentar


up